fbpx
Tuesday 28th June 2022

Bioetika dalam Pandemi

By: On:

Sumber klatenkab.go.id

Oleh : Nanda Wimala Ekawati (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

KABARKLATEN.COM_ Pandemi adalah wabah penyakit yang berjangkit serempak di berbagai belahan dunia, yang mana meliputi daerah geografi yang luas. Pandemi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) merupakan ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat pada saat ini. Munculnya penyakit menular baru yang disebabkan oleh virus yang sebelumnya diyakini tidak berbahaya bagi manusia, menimbulkan krisis global yang menyebabkan komunitas ilmiah medis meninjau secara menyeluruh tentang pencegahan, epidemiologi, dan pengobatan.

Krisis yang disebabkan oleh COVID-19 tidak hanya mempengaruhi kesehatan individu, tetapi juga pada isu-isu penting lainnya seperti kebiasaan sosial dan budaya, sarana produksi ekonomi, kebijakan administrasi publik, dan fungsi pemerintah. Kita ditantang dan dikelilingi oleh ketidakpastian, dan secara bersamaan belajar bagaimana menghadapi pandemi dan wabahnya yang datang secara tiba-tiba. Epidemi besar seperti COVID-19 adalah bencana alam yang mengancam populasi besar yang menuntut keefektifan manajemen, tindakan kesehatan
masyarakat, kebijakan lingkungan, dan sosial-ekonomi.

Namun, bidang-bidang tersebut tidak memiliki pertimbangan bioetika yang komprehensif atau kohesif. Prinsip-prinsip bioetika sangat diperlukan di semua tingkatan dalam menghadapi pandemi, mulai dari perawatan pasien hingga masalah alokasi sumber daya. Kerangka teoritis diperlukan untuk menetapkan dan mendukung keputusan legal yang mana tidak memiliki dasar etis untuk diterjemahkan secara jelas kepada individu dan populasi yang terkena dampak.

Manfaat dan Bahaya

Memastiwkan tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang memadai dan jelas merupakan landasan perjuangan global dalam melawan pandemi. Prinsip manfaat dan bahaya memandu
semua parameter perawatan pasien. Jadi, setiap keputusan bahkan yang didasarkan pada bukti epidemiologis dan ilmiah mungkin tampak seperti pemaksaan otoriter belaka jika tidak dilihat melalui kacamata etis. Dengan demikian, tenaga kesehatan harus mengadopsi perspektif kolektivitas ketika mendiskusikan bukti mengenai efektivitas tindakan, apakah terapeutik, berbasis perangkat, atau perilaku. Komentar publik yang dibuat tanpa bukti ilmiah yang kuat dapat memperburuk masalah kesehatan dan menimbulkan konflik. Oleh karena itu, wajib bagi para tenaga kesehatan untuk berhati-hati dalam wacana mereka agar tidak menyatakan informasi yang dapat membawa potensi bahaya bagi masyarakat.

Saat ini, membahas informasi tanpa bukti yang tepat dapat mengarah pada antagonisme politik, mencemari lingkungan medis dan ilmiah, dan mengarah pada perselisihan yang tidak
didasarkan pada sains, melainkan pada hasrat politik. Penerapan prinsip ini harus didasarkan pada kebenaran informasi mengenai diagnosis, risiko pengobatan, efek samping pengobatan,
dan protokol penelitian ilmiah yang melibatkan manusia.
Pemerataan dan Otonomi Topik-topik yang disebutkan di atas sangat penting dalam bioetika dan membutuhkan diskusi
yang lebih mendalam. Selain itu, durasi yang lama untuk tempat perawatan intensif, kurangnya sumber daya manusia dan material untuk memenuhi kebutuhan pandemi, menuntut diskusi
yang cepat dan ekstensif mengenai alokasi sumber daya, serta pelaksanaan kesetaraan dan otonomi.

Dalam konteks pandemi, kriteria keparahan klinis tidak dapat dipertimbangkan secarae terpisah. Probabilitas kelangsungan hidup dan kualitas hidup setelah perawatan intensif, serta komorbiditas yang ada sebelumnya juga harus dinilai sebagai bagian dari kriteria untuk masuk ke unit perawatan intensif. Dengan merebaknya COVID-19, perawatan pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik, dan hipertensi arteri menjadi sedikit perhatiannya. Beban besar akan muncul ketika pasien ini memburuk karena kurangnya perawatan, yang mana juga akan memunculkan krisis kesehatan masyarakat setelahpandemi.

Tantangan Dalam Perawatan Paliatif Selama Pandemi
Perawatan yang proposional dengan harapan kelangsungan hidup harus dijamin kepada setiap orang. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi penderitaan baik pasien maupun keluarganya.
Terkait hal ini perlu diadakan diskusi yang lebih besar seputar penggunaan teknologi untuk melengkapi perawatan pasien. Penerapan teknologi bukan hanya solusi sementara untuk
pandemi, tetapi memiliki potensi untuk penggunaan yang lebih luas di masa depan. Prinsip otonomi dalam hubungan antara pasien dengan tim perawatan kesehatan harus dihormati.
Kesetaraan ini hanya dapat dicapai melalui komunikasi yang efektif. Komunikasi tersebut melibatkan analisis rinci dari pro dan kontra dari setiap pilihan. Hal tersebut diberikan untuk
pasien dan perwakilan pasien dengan dasar yang diperlukan untuk pengambilan keputusan yang disertai rasa hormat yang mendalam dan timbal balik untuk mencapai keputusan bersama.
Bantuan Jarak Jauh Karena tingginya risiko penularan, isolasi yang dilakukan selama pandemi berdampak besar
pada perawatan dan hubungan keluarga. Karena tindakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), banyak yang harus diperhatikan dengan menggunakan teknologi melalui perangkat
elektronik dan aplikasi dengan koneksi internet. Kebutuhan untuk menjaga kerahasiaan catatan medis dan kerahasiaan dalam konsultasi jarak jauh ini memerlukan adanya perbaikan sistem,
karena sistem tersebut rawan terhadap serangan cyber. Oleh karena itu, hal-hal tersebut perlu diperhatikan kembali pada masa pascapandemi.

Kesimpulan
Tidak ada individu yang hanya dapat melindungi dirinya sendiri selama pandemi. Selain prinsip-prinsip, beberapa nilai tertentu harus lebih diperhatikan dalam tindakan bioetika. Praktik bioetika pada dasarnya demokratis yaitu berusaha untuk memberikan suara kepada pasien serta anggota keluarga pasien dalam mencari nilai individu yang berhak bagi mereka. Namun praktik bioetika juga bersifat pluralis, di mana terdapat diskusi mengenai masalah dan kasus etika yang harus mempertimbangkan pendapat yang berbeda atau bertentangan. Nilai penting lainnya dalam tindakan bioetika adalah kejujuran. Karena dengan berbagi informasi yang benar mengenai diagnosis, risiko pengobatan, efek samping obat, dan protokol penelitian ilmiah yang melibatkan manusia adalah dasar di mana bioetika dibangun. Nilai yang ketiga adalah solidaritas, yang mana menjadi nilai esensial dan tak terpisahkan dalam memerangi pandemi seperti COVID-19. Jika tidak ada solidaritas maka setiap tindakan kesehatan publik pasti akan gagal. Tanpa nilai-nilai etika yang jelas seperti demokrasi, kebenaran indormasi, solidaritas antar
masyarakat, dan kerja sama maka usaha untuk memerangi pandemi yang parah seperti COVID-19, tidak akan membuahkan hasil yang baik. Pandemi COVID-19 telah memunculkan refleksi,
pertemuan, dan diskusi penting, sehingga memicu beberapa provokasi, aksi, dan pembenahan di komite bioetika. Hal ini memungkinkan tidak hanya pertumbuhan antar-disiplin tetapi juga mediasi dengan profesional kesehatan, dan memungkinkan penduduk untuk mendamaikan dan membimbing pendapat yang berbeda dan bertentangan. Dengan adanya refleksi bioetika akibat pandemi tentu akan membantu kita bangkit menjadi lebih baik dan lebih kuat dari krisis.

Referensi:
Bioethics in a pandemic: The basics. (2020, August 26). The National Law
Review. https://www.natlawreview.com/article/bioethics-pandemic-basics
Gates, B. (2020). Responding to Covid-19—a once-in-a-century pandemic?. New England
Journal of Medicine, 382(18), 1677-1679.
Lin, C. A., Grunspun, H., Nazareth, J. C., & Oliveira, R. A. D. (2020). Bioethical principles
and values during pandemics. Clinics, 75.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan