Thursday 21st November 2019

Mendidik Itu Panggilan, Bukan Sekadar Profesi

KabarKlaten.com – Mendidik itu tidak sama dengan memindahkan pengetahuan. Mendidik adalah membantu pembentukan pribadi atau karakter bermartabat segambar (secitra) dengan Allah.

Seminar pendidikan memperingati Hari Guru Nasional di Paroki Wedi, Minggu (26/11/2017).

Seminar pendidikan memperingati Hari Guru Nasional di Paroki Wedi, Minggu (26/11/2017).

Pernyataan ini disampaikan Kepala Kantor Yayasan Pangudi Luhur (YPL) Pusat Bruder Dr Gregorius Bambang Nugroho, FIC pada seminar pendidikan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2017 yang diadakan Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten, Minggu (26/11/2017).

“Tugas mendidik itu harusnya sebagai panggilan, bukan sekadar profesi. Karena itu, komitmen panggilannya harus menandai kualitas kerjanya,” katanya.

Dalam seminar yang bertema “Pendidikan sebagai media pewartaan kabar gembira” ini, dosen di sejumlah Perguruan Tinggi itu menyampaikan, seorang guru harus memiliki sepuluh sikap rasuli.

Pertama, mensyukuri tugas panggilan hidupnya sebagai pendidik. Kedua, menemukan kebanggaan atau keindahan dalam tugas sebagai pendidik. Ketiga, terbuka untuk bekerjasama dalam tim yang solid. Keempat, menggunakan segala kesempatan untuk selalu mengembangkan diri. Dan kelima, menciptakan dan memelihara suasana yang menyenangkan di unit kerja.

“Guru juga perlu keenam, menjaga kehidupan bersaudara, segar dan menantang. Ketujuh, meningkatkan toleransi berperilaku dan solidaritas. Kedelapan, tidak menonjolkan dan membesar-besarkan kelemahan orang atau mampu bersikap positif. Kesembilan, mengendalikan emosi dan kritik. Dan kesepuluh, mempunyai etos kerja tinggi,” terangnya.

Bruder asal Wonogiri ini menyatakan, guru perlu memahami Panca Karsa Budaya Kasih Dalam Pendidikan, yaitu satu, menghormati hidup, harkat, martabat, dan hak azasi manusia dengan memperlakukan orang lain seperti diri sendiri. Dua, berpikir, berbicara, dan bertindak sesuai hati nurani yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Tiga, memiliki perhatian, pengertian, dan kerelaan mengampuni. Empat, menggunakan bakat, kemampuan, dan kesempatan untuk kebaikan bersama. Dan lima, menjauhkan diri dari segala yang berbau kekerasan dan perilaku yang menghambat persaudaraan.

“Guru harus senang “SATE” yaitu (kepanjangan dari) sregep, antepan, temenan, dan enthengan. Guru jangan senang “BAKMI” yakni (singkatan dari) bosenan, aras-arasen, keset, mlincuran, dan ingah-ingih,” pesannya.

Sedang Pastor Kepala Paroki Wedi Rama Andrianus Maradiyo, Pr menyambut baik diadakannya seminar pendidikan ini. “Saya berharap, guru jangan hanya mendampingi anak-anak yang pintar saja. Justru, guru harus mau mendampingi anak-anak yang masih butuh perhatian ekstra,” ujar rama.

Seminar pendidikan ini berlangsung gayeng. Peserta antusias menyimak pemaparan materi dari Bruder Bambang selama sekitar tiga jam.

Usai seminar dilakukan pembentukan Paguyuban Guru Paroki Wedi. Terpilih sebagai Ketua Paguyuban Guru Paroki Wedi adalah FX Sukamto, guru SMP Pangudi Luhur 1 Klaten dan Sekretaris Antonius Heri Subagyo, guru SMK Petrus Kanisius Klaten. Keduanya diberi mandat untuk melengkapi kepengurusan Paguyuban Guru Paroki Wedi. (L Sukamta)

 

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan